SiapaSuka Berjumpa Dengan Allah, Allah Suka Berjumpa Dengannya. Oleh: Badrul Tamam. Al-Hamdulillah, segala piji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabb semesta alam.Shalawat dan salam kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.. Setiap mukmin wajib cinta kepada Tuhannya, Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Merekayang meyakini bahwa mereka kelak akan berjumpa dengan Allah berkata, "Betapa banyak kelompok kecil yang mampu mengalahkan kelompok besar atas izin Allah." Dan Allah bersama orang-orang yang sabar. - (Q.S Al-Baqarah: 249) Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu. - (Q.S Ar-Ra'd: 24) Ayat tentang sabar #18.
Itulahseputar ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits yang berkaitan dengan Ya'juj dan Ma'juj. Sebenarnya masih banyak lagi hadits-hadits yang membahas mengenai Ya'juj dan Ma'juj ini, namun kami cukupkan sampai di sini saja. Semoga tulisan ini menambah wawasan agama kita dan menambah kerinduan kita berjumpa dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Dalamsurat Al Furqan ayat 63 ini, Allah SWT menjelaskan tentang ciri hamba Allah yang Maha Pengasih. Mereka begitu setia mencintai Allah dan berharap berjumpa dengan-Nya. 2. Ibadurrahman ialah mereka yang setia akan nasihat nasihat Rasul serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri teladan. Mereka juga yang mencintai sahabat sahabat Rasul
Jikamenurut konsep hulul al-Hallaj diri seseorang tidak hancur dan tidak hilang, tetap dua wujud (Tuhan dan manusia), tetapi bersatu dalam satu tubuh, menurut konsep Abu Yazid, diri seseorang hancur dan yang ada hanya diri Tuhan. Seseorang yang ingin berjumpa dengan Tuhannya dapat melakukan upaya yang disebutnya dengan mendaki ( taraqqi ).
Site De Rencontre Gratuit Dans Les Yvelines. 5 Amalan untuk Memupuk Rindu kepada AllahPertama Mentafakuri tanda-tanda kebesaran Allah berupa alam Meyakini dan mencintai semua syariat yang datang dari Membaca, mentadaburi, mempelajari makna dan mengamalkan Al-QuranKeempat Memperbanyak zikirKelima Memperbanyak amal Saleh Materi Khutbah Jumat Memupuk Rindu Berjumpa dengan Allah di Bulan Sya’ban Oleh Abdul Halim Tri Hantoro * Link download PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan الْحَمْدُ لله الَّذِي خَصَّ شَعْبَانَ بِتَشَعُّبِ الْخَيْرَاتِ وَالْإِحْسَانِ، وَعَظَمَ حُرْمَتَهُ عَلَى سَائِرِ الشُّهُوْرِ بِلَيْلَةِ نِصْفِهِ الْعَظِيْمَةِ الشَّأْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا فَإنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala yang telah menetapkan untuk hamba-Nya bulan Sya’ban agar senantiasa melakukan ketaatan sebagai wasilah meraih perjumpaan dengan Ar-Rahman. Segala sesuatu yang ada di langit dan bumi menyucikan dan memuji-Nya. Dia berfirman, تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَالْاَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّۗ وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا “ Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.” QS. Al-Isra’ 44 Shalawat dan salam semoga tercurah untuk baginda Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. keluarga dan para sahabatnya. Semoga keselamatan juga Allah curahkan untuk umatnya yang selalu berpegang teguh kepada ajarannya. Kami wasiatkan kepada diri kami juga kepada jamaah sekalian, untuk senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar takwa, dalam arti kita selalu tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman, يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” QS. Ali Imran 102 Jamaah shalat Jumat rahimakumullah Kenikmatan dunia yang paling besar dirasakan oleh orang beriman dan menjadikannya tenteram adalah nikmat kerinduan untuk berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala. Sedangkan kenikmatan akhirat yang paling agung dan paling tinggi adalah melihat wajah Allah subhanahu wata’ala dengan jelas tanpa adanya penghalang selayak melihat rembulan di malam purnama. Maka di antara doa Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah, وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لاَ يَنْفَدُ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لاَ تَنْقَطِعُ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعْدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ المَوْتِ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ، وَأَسْأَلَكَ الشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غيرِ ضَرَّاءٍ مُضِّرَةٍ، وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ “Aku mohon kepada-Mu agar diberi nikmat yang tidak habis dan aku minta kepada-Mu, agar diberi penyejuk mata yang tak putus. Aku mohon kepada-Mu agar aku dapat rela setelah qadha-Mu turun pada kehidupanku. Aku mohon kepada-Mu kehidupan yang menyenangkan setelah aku meninggal dunia. Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu di Surga, rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan keimanan dan jadikanlah kami sebagai penunjuk jalan lurus yang memperoleh bimbingan dari-Mu.” HR. An-Nasa’i No. 1305. Hadits ini shahih Jamaah shalat Jumat rahimakumullah Kerinduan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk berjumpa dengan Allah tampak dengan jelas dalam perjalanan hidupnya, baik dalam ibadah maupun aktivitas dakwahnya. Kerinduan beliau semakin memuncak di saat akhir kehidupannya. Diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk di atas mimbar seraya bersabda, إِنَّ عَبْدًا خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ أَنْ يُؤْتِيَهُ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا مَا شَاءَ وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ، فَاخْتَارَ مَا عِنْدَهُ”. فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ فَدَيْنَاكَ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا! فَعَجِبْنَا لَهُ، وَقَالَ النَّاسُ انْظُرُوا إِلَى هَذَا الشَّيْخِ؛ يُخْبِرُ رَسُولُ اللَّهِ r عَنْ عَبْدٍ خَيَّرَهُ اللَّهُ بَيْنَ أَنْ يُؤْتِيَهُ مِنْ زَهْرَةِ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ، وَهُوَ يَقُولُ فَدَيْنَاكَ بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا. فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ هُوَ الْمُخَيَّرُ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ هُوَ أَعْلَمُنَا بِهِ “Sesungguhnya ada seorang hamba yang telah Allah tawari untuk memilih antara dunia dan apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada di sisi Allah.” Tiba-tiba Abu Bakar menangis lalu berkata, “Kami tebus anda dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami.” Kami menjadi heran kepadanya. Orang-orang berkata, “Perhatikanlah orang tua ini. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengabarkan tentang seorang hamba yang Allah tawari ia perhiasan dunia dan apa yang ada di sisi-Nya lalu orang tua ini berkata, Kami tebus Anda dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami’.” Dan ternyata hamba yang diminta memilih itu adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan Abu Bakar adalah orang yang paling memahami tentang beliau. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya manusia yang paling terpercaya di hadapanku dalam persahabatannya dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil kekasih selain Rabbku, tentulah Abu Bakar orangnya. Akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam. Sungguh tidak ada satu pun pintu di dalam masjid yang tersisa melainkan akan tertutup kecuali pintunya Abu Bakar.” HR. Al-Bukhari No. 3904 Materi Khutbah Jumat Waspadalah Terhadap Kaum Perusak Agama Islam! Demikian halnya Nabi Musa alaihissalam yang juga memendam kerinduan yang dalam untuk bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala sebagaimana di terangkan dalam Al-Quran, وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ “Dan ketika Musa datang untuk munajat pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman langsung kepadanya, Musa berkata, “Ya Tuhanku, tampakkanlah diri-Mu kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Allah berfirman, “Engkau tidak akan sanggup melihat-Ku, namun lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya sebagai sediakala niscaya engkau dapat melihat-Ku.” Maka ketika Tuhannya menampakkan keagungan-Nya kepada gunung itu, gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku adalah orang yang pertama-tama beriman.” QS. Al-A’raf 143 Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata ketika mengomentari firman Allah Ta’ala, مَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ اللّٰهِ فَاِنَّ اَجَلَ اللّٰهِ لَاٰتٍ ۗوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ “Barang siapa mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu yang dijanjikan Allah pasti datang. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” QS. Al-’Ankabut 5 Ayat ini merupakan penguatan bagi orang-orang yang memendam kerinduan untuk bertemu dengan Allah dan sebagai hiburan bagi mereka. Seakan dikatakan bahwa Allah mengetahui bahwa siapa yang mengharap perjumpaan dengan-Nya maka ia akan rindu kepada-Nya, kemudian Allah akan menetapkan ajal yang dekat baginya di mana ia akan datang tanpa ada yang menghalanginya karena setiap yang akan datang itu adalah dekat. Jamaah shalat Jumat rahimakumullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dari hadits Ubadah bin Shamit, مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ إِنَّا لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ “Barang siapa Mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya, sebaliknya barang siapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.” Kontan Aisyah atau sebagian istri beliau berkomentar, “Kami juga cemas terhadap kematian!” Nabi lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya, namun maksud yang benar, seorang mukmin jika kematian menjemputnya, ia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah dan karamah-Nya, sehingga tak ada sesuatu apa pun yang lebih ia cintai daripada apa yang di hadapannya, sehingga ia mencintai berjumpa Allah, dan Allah pun mencintai berjumpa kepadanya. Sebaliknya orang kafir jika kematian menjemputnya, ia diberi kabar buruk dengan siksa Allah dan hukuman-Nya, sehingga tidak ada yang lebih ia cemaskan daripada apa yang di hadapannya, ia membenci berjumpa Allah, sehingga Allah pun membenci berjumpa dengannya.” HR. Al-Bukhari Sesungguhnya di antara bentuk azab Allah subhanahu wata’ala yang ditimpakan kepada para musuh-Nya adalah terhalang dari kebaikan akhirat. Dan di antara kebaikan itu adalah melihat wajah Allah, sebagaimana firman-Nya, كَلَّآ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَىِٕذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَۗ “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari melihat Rabbnya.” QS. Al-Muthaffifin 15 Dan nikmat terbesar yang akan Allah berikan kepada para wali-Nya adalah melihat wajah-Nya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ نَّاضِرَةٌ، اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri, memandang Rabbnya.” QS. Al-Qiyamah 22-23 5 Amalan untuk Memupuk Rindu kepada Allah Jamaah shalat Jumat rahimakumullah Maka daripada itu, di bulan yang sangat dimuliakan Allah, yakni bulan Sya’ban ini, marilah kita senantiasa memupuk kerinduan untuk berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala di akhirat kelak. Karena hal itu akan selalu mendorong kita untuk dekat dengan Allah, taat kepada-Nya dan selalu memohon ampunan kepada-Nya. Berikut ini adalah beberapa amal untuk memupuk kerinduan kepada Allah subhanahu wata’ala di bulan Sya’ban yang mulia ini. Pertama Mentafakuri tanda-tanda kebesaran Allah berupa alam semesta. Allah Ta’ala berfirman, اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ. الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ Baca juga 5 Doa Rasulullah di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata, “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” QS. Ali Imran 190-191 Kedua Meyakini dan mencintai semua syariat yang datang dari Allah. Allah Ta’ala berfirman, وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِ ۙوَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَابِ “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab pada hari Kiamat, bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya niscaya mereka menyesal.” QS. Al-Baqarah 165 Ketiga Membaca, mentadaburi, mempelajari makna dan mengamalkan Al-Quran اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ “Sungguh, Al-Quran ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.” QS. Al-Isra’ 9 Keempat Memperbanyak zikir Allah subhanahu wata’ala berfirman, اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ “Bacalah Kitab Al-Quran yang telah diwahyukan kepadamu Muhammad dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan ketahuilah mengingat Allah salat itu lebih besar keutamaannya dari ibadah yang lain. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS. Al-Ankabut 45 Kelima Memperbanyak amal Saleh Allah subhanahu wata’ala berfirman, قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا “Katakanlah Muhammad, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” QS. Al-Kahf 110 Jamaah shalat Jumat rahimakumullah Demikian materi khutbah Jumat yang dapat kami sampaikan pada siang hari ini, semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk dapat senantiasa memupuk kerinduan kepada perjumpaan dengan Allah di akhirat kelak pada bulan Sya’ban yang mulia ini. Amin أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. KHUTBAH KEDUA أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ Download PDF Materi Khutbah Jumat Memupuk Rindu Berjumpa dengan Allah di Bulan Sya’ban di sini DOWNLOAD PDF Semoga bermanfaat! Materi khutbah Jumat sebelumnya Bulan Sya’ban Pintu Gerbang Kemuliaan
Setelah bertemu dengan rasul-rasul yang mulia, Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam melanjutkan perjalanan agungnya menuju perjumpaan dengan penguasa alam semesta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu kondisi perjalanan ini tak terbayang di akal manusia. Bayangkan! Bagaimana degup jantung seseorang kala hendak berjumpa kepala negara atau seorang raja? Apalagi berjumpa dengan raja diraja, penguasa alam semesta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Renungkan sejenak, bagaimana kiranya keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tatkala Jibril mengabarkan tiba saatnya menghadap Rabbul Izzati wal Jalal? Lalu dalam pertemuan ini, apakah Rasulullah melihat Allah Ta’ala? Mari kita baca cuplikan kisahnya berikut ini. Pertemuan Dengan Allah Azza wa Jalla Setelah menyebutkan tentang Sidratul Muntaha, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membacakan ayat, فَأَوْحَى اللهُ إِلَيَّ مَا أَوْحَى “Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya Muhammad apa yang telah Allah wahyukan.” [Quran An-Najm 10]. Kemudian disebutkan tentang kisah diwajibkan shalat. Imam al-Bukhari mengatakan, وقال البخاري حدثنا عبد العزيز بن عبد الله، حدثني سليمان، عن شريك بن عبد الله أنه قال سمعت أنس بن مالك رضي الله عنه يقول “حَتَّى جَاءَ بِهِ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى، وَدَنَا الْجَبَّارُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَتَدَلَّى، حَتَّى كَانَ مِنْهُ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى، فَأَوْحَى إِلَيْهِ مَا شَاءَ فِيمَا أَوْحَى خَمْسِينَ صَلاَةً عَلَى أُمَّتِهِ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ..” “Abdul Aziz bin Abdullah menuturkan kepadaku dari Sulaiman dari Syarik bin Abdullah bahwa ia berkata, Aku mendengar Anas bin Malik radhiallahu anhu berkata, Saat Nabi dihantarkan ke Sidratul Muntaha, Allah Yang Maha Perkasa Tabaraka wa Ta’ala mendekat. Sehingga Dia menjadi dekat dengannya. Sampai-sampai jarak Nabi dengan-Nya sejarak dua ujung busur panah bahkan lebih dekat lagi. Allah memberikan wahyu yang dikehendaki-Nya. Antara lain ialah, Dia wajibkan lima puluh kali shalat setiap siang dan malam hari atas umatnya’.” HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tauhid, 7079. Dalam Fathul Bari, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, وَقَدْ أَخْرَجَ الأُمَوِيُّ فِي مَغَازِيهِ، وَمِنْ طَرِيقِهِ الْبَيْهَقِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنِ ابن عباس فِي قَوْلِهِ تَعَالَى {وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى} [النجم 13]، قَالَ “دَنَا مِنْهُ رَبُّهُ”. وَهَذَا سَنَدٌ حَسَنٌ، وَهُوَ شَاهِدٌ قَوِيٌّ لِرِوَايَةِ شَرِيكٍ “Dikeluarkan oleh al-Umawi dalam Maghazinya dari jalan al-Baihaqi. Dari Muhammad bin Amr, dari Abi Salamah, dari Ibnu Abbas ketika menafsirkan firman Allah Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain’. [Quran An-Najm 13]. Ibnu Abbas berkata, Rabbnya mendekat kepadanya’. Sanad ini hasan. Dan ia menjadi poin penguat dari riwayat Syarik. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 13/484. Sebagian ulama tidak sependapat dengan riwayat وَدَنَا الْجَبَّارُ “Allah al-Jabbar mendekat”. Mereka yang tidak sepakat di antaranya Abu Sulaiman al-Khattabi dan Ibnu Hazm. Mereka menuduh Syarik bin Abdullah keliru dalam haditsnya. Padahal Syarik adalah perawi yang terpercaya. Bahkan mereka lebih jauh lagi, mereka kritik Anas bin Malik, al-Bukhari, dikarenakan mereka ingin mensucikan Allah dari sifat mendekat, sampai kedekatan tersebut seperti dua ujung busur. Tentu kita katakan, Allah Ta’ala melakukan apa yang Dia kehendaki. Akal kita yang terbatas tidak mampu menalarnya. Pemahaman kita yang lemah tidak mampu membayangkannya. Tidak mungkin kita bisa memahami yang terjadi itu seperti apa. Allah Ta’ala mengabarkan apa yang Dia lakukan lewat kitab-Nya dan penjelasan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Kewajiban kita adalah menerimanya. Bukan menanyakan bagaimananya. Atau memisalkannya. Dan kita tidak boleh menolak kabar tersebut. Tentang Allah mendekat yang disebutkan dalam hadits, sebenarnya masalah ini bukan sesuatu yang aneh dan asing. Karena banyak hadits-hadits lain yang menceritakan tentang keadaan yang mirip. Seperti sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam. Di waktu tersisa sepertiga malam akhir…” HR. al-Bukhari 1094. Juga dalam riwayat al-Bukhari, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang keadaan orang-orang beriman pada hari kiamat. فَيَأْتِيهِمُ اللهُ فِي الصُّورَةِ الَّتِي يَعْرِفُونَ، فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ. فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا. فَيَتْبَعُونَهُ “Allah kelak akan mendatangi orang-orang beriman dalam wajah yang mereka kenali. Allah berfirman, Aku adalah Rabb kalian’. Mereka menjawab, Engkau Rabb kami’. Kemudian mereka mengikuti-Nya”. Sikap kita terhadap hadits “Allah mendekat…” sama seperti menyikapi hadits-hadits ini. Menerimanya tanpa menolak. Tidak membagaimanakannya. Dan tidak memisalkannya. Tidak bertanya, Bagaimana Allah turun ke langit dunia? Bagaimana Dia datang? Bagaimana orang-orang beriman mengikutinya? Karena akal kita tidak akan mampu menjangkaunya. Perjalanan Luar Biasa Perjalanan yang dialami Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ini adalah kesempatan satu-satunya yang terjadi pada hidup beliau. Perjalanan tanpa didampingi Malaikat Jibril alaihissalam. Jarak dan tingkatan yang beliau capai, tak pernah dicapai oleh satu makhluk pun. Baik dari kalangan malaikat maupun manusia. Dimana pertemuan ini terjadi? Allahu a’lam. Apakah di langit ketujuh? Allahu a’lam. Tidak ada dalil yang menjelaskan hal tersebut. Sehingga kewajiban kita hanyalah menerima. Tidak menerka-nerka. Membayangkan firman Allah ini saja kita tak sanggup وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ “Kursi Allah meliputi langit dan bumi” [Quran Al-Baqarah 255] Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ فِي أَرْضٍ فَلاَةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلاَةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ “Tidaklah tujuh langit dibandingkan kursi Allah kecuali seperti cincin yang dilemparkan di tanah lapang, dan besarnya Arasy dibandingkan kursi adalah seperti tanah lapang dibandingkan dengan cincin.” HR. Ibnu Hibban 361, al-Baihaqi Bab al-Asma wa ash-Shifat 2/300, Jami’ al-Bayan 5/399, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah, 109. Apakah Nabi Muhammad Melihat Allah? Ada perbedaan pandangan ulama dalam permasalahan ini. Namun pendapat yang benar adalah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak melihat Allah. Pendapat ini berdasarkan hadits riwayat al-Bukhari dari Masruq. Masruq bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anhu. يَا أُمَّتَاهْ؛ هَلْ رَأَى مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم رَبَّهُ؟ فَقَالَتْ لَقَدْ قَفَّ شَعَرِي مِمَّا قُلْتَ، أَيْنَ أَنْتَ مِنْ ثَلاَثٍ؛ مَنْ حَدَّثَكَهُنَّ فَقَدْ كَذَبَ مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا صلى الله عليه وسلم رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ. ثُمَّ قَرَأَتْ {لاَ تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الخَبِيرُ} [الأنعام 103]، {وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ} [الشورى 51]. وَمَنْ حَدَّثَكَ أَنَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَدْ كَذَبَ. ثُمَّ قَرَأَتْ {وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا} [لقمان 34]. وَمَنْ حَدَّثَكَ أَنَّهُ كَتَمَ فَقَدْ كَذَبَ. ثُمَّ قَرَأَتْ {يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ} [المائدة 67] الآيَةَ؛ وَلَكِنَّهُ “رَأَى جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ فِي صُورَتِهِ مَرَّتَيْنِ “Wahai Ibu, apakah benar Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat Rabbnya?”. Aisyah menjawab, “Sungguh buluku berdiri merinding dengan apa yang kau tanyakan. Tiga perkara, yang barang siapa mengatakannya kepadamu, maka sungguh ia telah berdusta. 1 Siapa mengatakan padamu bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat Rabbnya, ia telah berdusta. Lalu Aisyah membaca ayat; Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Al An’am 103. Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir. As Syura 51. 2 Siapa yang mengatakan padamu bahwa beliau mengetahui apa yang akan terjadi pada hari esok, ia telah berdusta. Lalu Aisyah membaca ayat; Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok. Luqman 34. Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa beliau menyembunyikan sesuatu, ia telah berdusta. Lalu Aisyah membaca ayat; Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Al Maidah; 67. Hanya saja beliau pernah melihat wujud asli Jibril dua kali.” HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tafsir, 4574. Dalam riwayat Muslim وعند مسلم عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ كُنْتُ مُتَّكِئًا عِنْدَ عَائِشَةَ، فَقَالَتْ يَا أَبَا عَائِشَةَ، ثَلاَثٌ مَنْ تَكَلَّمَ بِوَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الْفِرْيَةَ. قُلْتُ مَا هُنَّ؟ قَالَتْ مَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صلى الله عليه وسلم رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الْفِرْيَةَ. قَالَ وَكُنْتُ مُتَّكِئًا فَجَلَسْتُ، فَقُلْتُ يَا أُمَّ المُؤْمِنِينَ، أَنْظِرِينِي، وَلاَ تُعْجِلِينِي؛ أَلَمْ يَقُلِ اللهُ عز وجل {وَلَقَدْ رَآهُ بِالأُفُقِ الْمُبِينِ} [التكوير 23]، {وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى} [النجم 13]؟ فَقَالَتْ أَنَا أَوَّلُ هَذِهِ الأُمَّةِ سَأَلَ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ “إِنَّمَا هُوَ جِبْرِيلُ، لَمْ أَرَهُ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيْهَا غَيْرَ هَاتَيْنِ الْمَرَّتَيْنِ، رَأَيْتُهُ مُنْهَبِطًا مِنَ السَّمَاءِ سَادًّا عِظَمُ خَلْقِهِ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الأَرْضِ”. فَقَالَتْ أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللهَ يَقُولُ {لاَ تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأَبْصَارَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ} [الأنعام 103]؟! أَوَ لَمْ تَسْمَعْ أَنَّ اللهَ يَقُولُ {وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ} [الشورى 51]؟، قَالَتْ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَتَمَ شَيْئًا مِنْ كِتَابِ اللهِ، فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الْفِرْيَةَ، وَاللهُ يَقُولُ {يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ} [المائدة 67]، قَالَتْ وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يُخْبِرُ بِمَا يَكُونُ فِي غَدٍ، فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَى اللهِ الْفِرْيَةَ، وَاللهُ يَقُولُ {قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ} [النمل 65] [12]. وأوضح من ذلك ما رواه مسلم عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ؟ قَالَ “نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ” [13]. Dari Masruq rahimahullah, ia berkata, “Dulu aku berada di sisi Aisyah.” Aisyah mengatakan, “Hai Abu Aisyah, ada tiga hal yang kalau salah seorang dari mereka menbicarakan salah satunya saja dari yang tiga itu, maka sesungguhnya ia telah mengadakan dusta yang paling besat terhadap Allah”. Aku Masruq mengatakan, Apa itu? Kata Aisyah, “Barangsiapa yang mengira bahwa Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pernah melihat Tuhannya, maka sesungguhnya ia telah mengadakan dusta yang paling besar terhadap Allah”. Masruq berkata, “Tadinya aku bersandar, lalu aku duduk dan mengatakan, “Wahai Ummul Mukminin, sebentar, jangan terburu-buru. Bukankah dengan firman Allah Azza wa Jalla “Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” Qs. At Takwir 8123 “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya Jibril itu dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain”. Qs. An Najm 5313. Lalu Aisyah mengatakan, “Aku adalah yang pertama kali dari umat ini bertanya tentang ayat itu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda Sesungguhnya ia adalah Jibril, yang belum pernah aku melihatnya dengan wujud aslinya sebagaimana ia diciptakan kecuali hanya dua kali itu saja. Aku melihatnya turun dari langit, keagungan penciptaannya meliputi antara langit dan bumi sangat indah sekali.” Aisyah berkata, “Apakah belum engkau dengar bahwa Allah berfirman, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui”. Qs. Al An’aam 6103, Apakah belum juga engkau dengar bahwa Allah berfirman, “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan malaikat lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana” Qs. Asy Syuuraa 4251. Kata Aisyah, Barangsiapa mengira bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu dari Kitab Allah Alquran, maka sesungguhnya ia telah mengadakan dusta yang paling besar terhadap Allah, Allah berfirman, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanah-Nya”. Qs. Al Maa-idah 567.” Ia berkata lagi, “Dan barangsiapa yang mengira bahwa Muhammad dapat memberitahukan tentang apa yang terjadi besok, maka sesungguhnya ia telah mengadakan dusta yang paling besar terhadap Allah, dan Allah berfirman, “Katakanlah “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, Qs. An Naml 2765.” HR. Muslim no. 259. Dalam riwayat Muslim dari Abdullah bin Syaqiq, aku bertanya kepada Abu Dzar لَوْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَسَأَلْتُهُ. فَقَالَ عَنْ أَيِّ شَيْءٍ كُنْتَ تَسْأَلُهُ؟ قَالَ كُنْتُ أَسْأَلُهُ هَلْ رَأَيْتَ رَبُّكَ؟ قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ قَدْ سَأَلْتُ فَقَالَ رَأَيْتُ نُوْرًا. رواه مسلم “Kalau aku sempat bertemu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sungguh aku akan bertanya. Abu Dzar balik bertanya, “Apa yang akan kau tanyakan?” Aku akan bertanya, “Apakah beliau melihat Rabbnya?” Abu Dzar pun berkata, “Sungguh aku telah bertanya kepada beliau shallallahu alaihi wa sallam. Beliau menjawab, Aku melihat cahaya’.” HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, 178. Dengan demikian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat cahaya. Cahaya itu menghalangi pandangan beliau dari Allah Azza wa Jalla. Tapi, beliau mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa yang Allah bicarakan kepada beliau? Allah memberi beliau wahyu tentang kewajiban shalat. Sumber – Oleh Nurfitri Hadi nfhadi07, Artikel Read more
403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID p4HpGpCfOMt5X9-svNhKSmFvLsa4o4GKKlg9fZLVZYRQEsLCNP2XyA==
Dalam Al-Quran ada beberapa ayat yang sering diperdebatkan oleh para ulama, yaitu ayat tentang melihat Allah. Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak seorang pun di antara makhluk Allah yang dapat melihat Allah Swt. Alasannya. Allah itu Al-Khalik Maha Pencipta, dan karena itu Dia tidak bisa dipersepsi oleh makhluknya. Allah adalah Zat yang transenden, yang melintasi ruang dan waktu. Sementara persepsi kita dibatasi ruang dan waktu. Allah itu Mahabesar, sedangkan kita hanya mampu mencerap yang kecil-kecil saja. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah kaum mu'tazilah yang kita kenal sebagai kelompok yang rasional. Menurut mereka, kita tidak mungkin melihat Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Argumentasi mereka menunjuk pada ayat Al- Quran la tudrikuhul abshâr wa huwa yudrikul abshår, tidak ada penglihatan yang dapat mencerapnya, tetapi Dialah yang mencerap seluruh ulama lainnya, berdasarkan ayat Al- Quran yang sangat jelas dan juga hadis-hadis, menjelaskan bahwa kita dapat melihat Allah Swt. Kalau tidak di dunia, nanti di akhirat. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa kenikmatan yang paling besar bukanlah tinggal di surga, tapi kesempatan memandang wajah Allah Swt. Sebagaimana kenikmatan seorang perindu, bukanlah memperoleh hadiah dari orang yang dirindukannya, tapi bisa memandang wajah-Nya. Dalam Al-Quran disebutkan, wujuhuy yawmaidzin nådhirah, ila rabbihâ nâzhirah. wajah-wajah pada hari kiamat itu riang gembira, memandang wajah Tuhannya. Kata 'nâzhirah' artinya memandang, dari kata nazhara. Bagi mu'tazilah. 'nâzhirah' bermakna menunggu, bukan memandang. Jadi ayat itu diartikan, wajah-wajah itu riang gembira, sedang menunggu hadis, misalnya yang diriwayatkan dari Aisyah, orang-orang bertanya kepada Rasulullah, apakah nanti di hari akhirat kami bisa memandang Tuhan? Rasulullah lalu menunjuk pada bulan purnama. "Kamu lihatkah bulan di langit itu?" "Ya," kata para sahabat. Kalian akan melihat Allah nanti, lebih jelas dari kalian lihat bulan sekarang ini." Kemudian banyak juga doa-doa dari Rasulullah Saw dan orang-orang suci sepanjang sejarah Islam yang menunjukkan kata-kata melihat. Misalnya. dalam doa Shahifah Sajjadiyyah, Imam Ali Zainal Abidin berdoa Wamnun bin nazhari ilaika 'alayya.... wa lâ tashrif 'anniy wajhaka. Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kesempatan memandang wajah-Mu, dan jangan palingkanlah wajah-Mu dariku. Di situ jelas-jelas disebut kata melihat, an-nazhar. Tentu bukan anugerahkan kepadaku menunggu-Mu, tapi anugerahkan kepadaku kenikmatan memandang Ali pernah ditanya seseorang. "Apakah Anda melihat Tuhan Anda?" Beliau menjawab pendek, "Lam a'bud rabban lam aráhu, Aku tidak pernah menyembah Tuhan yang tidak bisa aku lihat." Kemudian ada hadis terkenal di antara kita, ketika Nabi ditanya oleh malaikat Jibril tentang Ihsan. Rasulullah berkata, "Ihsan itu adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya." Dalam hadis itu digunakan kata 'ka annaka' seolah-olah, karena Nabi berbicara di hadapan orang kebanyakan. Ka annaka taráhu. seakan-akan engkau melihat-Nya, fa in lam takun tarâhu fa innahu yarâka, jika kamu tidak sanggup melihatnya, perhatikanlah bahwa Tuhan meihat kamu. Kata "kamu tidak sanggup" menunjukkan ada sekelompok orang yang sanggup melihat Allah hadis yang lain juga disebutkan bahwa sekejap mata memandang Allah, jauh lebih baik dari ibadah ribuan tahun. Oleh karena itu, bagi kaum sufi, merindukan melihat Allah itu tidak hanya pada hari akhirat hari akhirat, insya Allah seluruh kaum mukminin yang diselamatkan Allah akan melihat Dia. Tapi di antara manusia ada sekelompok orang yang ingin melihat Allah sekarang juga. Mereka diberi anugerah untuk memandang-Nya saat Macam Pertemuan dengan AllahDalam Al-Quran, selain kata melihat Allah, ada kata yang semakna dengan itu-al-liqâ. pertemuan. Dalam bahasa Inggris, pertemuan yang sakral tidak sebagai meeting, tapi encounter, pertemuan ruhaniah atau pertemuan pemikiran batiniah. Kata liqa disebut lebih dari dua puluh kali dalam Al-Quran, umumnya menunjukkan pertemuan dengan Tuhan setelah kematian. Misalnya, fa dzûqû bi mâ nasitum liqâ-a yawmikum hadza- Rasakanlah siksa karena kamu melupakan pertemuan kamu hari ini Al-Sajdah 14. Berdasarkan itu sebagian penafsir Al-Quran menetapkan bahwa kita hanya berjumpa dengan Allah pada waktu atau setelah kematian. Itu memang benar. Semua kita akan berjumpa dengan Allah Swt pada waktu kita meninggal Ibn Arabi, ada dua macam pertemuan dengan Allah itu. Ada pertemuan yang terpaksa, ruju' idhthirâri. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita pada suatu saat akan berjumpa dengan Allah Swt, yaitu pada saat kematian. Ada lagi pertemuan yang sukarela, ruju' ikhtiyâri. Inilah pertemuan dengan Allah yang kita pilih sendiri, yang kita rencanakan, yang kita beberapa ayat yang mengandung kata liqâ atau mulâquw yang menimbulkan kemusykilan untuk diartikan sebagai kematian. Sebagai misal adalah ayat terakhir surah Al-Kahfi. Menurut sebagian ulama ayat terakhir bagus dijadikan wirid sebelum tidur. Bacalah satu ayat itu, dan sebutkan pada jam berapa kita akan bangun. Insya Allah kita akan bangun pada waktu yang kita rencanakan. Ayat itu berbunyi qul innamâ ana basyarun mitslukun yuhá ilayya annamâ ilâhukum ilahuw wâhid, faman kâna yarjuw liqâ'a rabbihi fal ya'mal amalan shâlihâ, wa lâ yusyrik bi'ibâdati rabbihi ahadam. Kalimat yang dicetak tebal berarti "barang siapa yang ingin berjumpa dengan Tuhannya. hendaklah dia beramal saleh."Berjumpa di sini tidak dapat diartikan sebagai kematian, karena kematian itu akan datang juga orang mengharapkannya atau tidak. Jadi kata liqa' di sini hanya bisa diartikan dengan pertemuan dengan Allah Swt di dunia ini juga. Dan dalam ayat itu dinyatakan, siapa yang ingin atau merindukan untuk bisa berjumpa dengan Tuhannya, syaratnya ada dua. Pertama, harus beramal saleh, yang kedua, tidak mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu pun dalam menyembah Dia. Yang dimaksud dengan tidak menyekutukan Allah itu, hampir semua mufasir mengatakan, ialah tidak mengharapkan selain Allah. Menurut sebagian besar ulama yang dimaksud musyrik di sini ialah riya'. Ketika beribadah kepada Tuhan itu, hendaknya tidak bersyarikat dalam ibadah itu dengan yang lain-lain. Salah satunya adalah riya'. beribadah karena ingin mendapat penilaian baik dari manusia. Itu sudah musyrik. Kita musyrik kalau kita mensyarikatkan Allah dengan mengharapkan penilaian dari manusia atau kalau ibadah kita sudah dipengaruhi reaksi orang lain terhadap diri kita. Setiap hari kita sibuk. kecapaian dan kelelahan hanya untuk memenuhi citra yang orang lain telah persiapkan untuk kita. Kesibukan ini-mempertahankan dan mempromosikan citra kita di depan manusia- akan menghapuskan peluang untuk berjumpa dengan Allah Swt liqa' ilallah sekarang. dengan pertemuan yang kita pilih. Tentu saja pada saat kematian kita akan bertemu dengan Allah, pertemuan yang justru tidak ingin kita yang tidak berjumpa dengan Allah Swt. adalah orang yang menjadikan peribadatan kita kepada Allah itu sebagai wasilah perantara untuk memperoleh pahala atau untuk menghindari siksa. Jadi Allah itu disembah, bukan karena Dia. Tapi karena pahala-Nya. Kita musyrik, karena kita menjadikan Allah alat untuk mencapai kepentingan-kepentingan kita sendiri. Dalam Syarah 40 Hadis. Imam Khomeini bercerita tentang ini dengan sangat bagus. Ia menyindir kita semua. Kita semua adalah orang-orang musyrikin. Karena itu dalam Al-Quran disebutkan, sedikit sekali di antara hamba-hamba yang tidak musyrik Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, kecuali dalam keadaan musyrik Yusuf 106. Hampir semua kita, itu musyrik. Mengapa? Karena ketika kita menyembah Tuhan, pusat perhatian kita hanya pahala dan sering membimbing jamaah haji. Saya selalu menemukan pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan pahala. Ketika saya mengajak ibu-ibu berziarah ke masjid Quba, pertanyaannya adalah pahalanya. Sebagai mubalig, saya mengumpulkan hadis-hadis tentang pahala dan itulah yang kita sampaikan untuk mendorong mereka beramal. Misalnya, barang siapa yang shalat di masjid Nabawi 40 kali akan begini dan begitu. Shalat di Masjidil Haram sama nilainya dengan seratus ribu shalat di masjid-masjid yang lain. Rata-rata kita hafal dengan pahala ini. Karena ia menjadi pusat perhatian kita. Jadi kita beribadah kepada Allah bukan karena kecintaan kita kepada Dia. Bukan karena rindu untuk liqâ kepada Dia. Tapi karena kita mengharapkan hadiah, pahala atau menyembah Allah seperti pembantu melayani kita di rumah. Di rumah pembantu itu melayani kita bukan karena mereka mencintai kita. Bahkan boleh jadi mereka menyimpan kebencian di hatinya. Tapi mereka memenuhi perintah kita karena menunggu upah di ujung bulan. Seperti itulah kita menyembah Allah Swt. Kita berkhidmat karena menunggu upah di hari akhir. Bahkan kita menjalankan perintah Tuhan lebih buruk dari pembantu menjalankan perintah kita. Karena kita seringkali menuntut upahnya dengan segera. Kita rajin betul shalat malam karena kita berharap Tuhan menyelamatkan kita dari kebangkrutan ekonomi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Atau kita rajin bersedekah untuk menolak bencana. Ibadat kita adalah investasi yang kita harapkan "quick yielding", menyerahkan hasilnya dengan cepat dengan ROI yang tinggi. JR***KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari Untuk Pencerahan Pemikiran Islam dan Sekolah Para Juara SD Cerdas Muthahhari SMP Plus Muthahhari SMP Bahtera dan SMA Plus Muthahhari
Khutbah Iالحمد لله الحمد لله الذي هدانا سبل السلام، وأفهمنا بشريعة النبي الكريم، أشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له، ذو الجلال والإكرام، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدا عبده و رسوله، اللهم صل و سلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وأصحابه والتابعين بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم يايها الذين امنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا، يصلح لكم أعمالكم ويغفرلكم ذنوبكم، ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما. وقال تعالى يايها الذين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن الا وأنتم مسلمون، صدق الله Jum’ah rahimakumullah...Rasulullah SAW bersabda bahwa kelak pada hari Kiamat Allah SWT akan memberikan perlindungan kepada tujuh golongan orang. Salah satu di antaranya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah sebagaimana penggalan hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abi Hurairah RA berikut iniوَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِArtinya “Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah semata-mata karena Allah.”Contoh terbaik dua orang seperti itu adalah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS yang kisah kebersamaan mereka karena cintanya kepada Allah SWT diabadikan di dalam Al-Qur’an, Surah Al-Kahfi, ayat 65–82. Secara ringkas kisah kebersamaan Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS dapat dijelaskan sebagai berikut Nabi Musa AS bertemu Nabi Khidir AS dan kemudian menjalin kebersamaan dengan mengikuti ke mana Nabi Khidir AS pergi. Dalam kebersamaan ini Nabi Musa AS ingin mengetahui ilmu haqiqat dari Nabi Khidir AS. Nabi Khidizir menyetujui maksud Nabi Musa AS tersebut dengan syarat Nabi Musa AS harus bersabar dengan tidak boleh menanyakan alasan mengapa Nabi Khidir AS melakukan sesuatu hingga Nabi Khidir AS sendiri berkenan menjelaskannya di saat yang menurutnya tepat. Sidang Jum’ah rahimakumullah...Nabi Musa AS menyatakan setuju atas persyaratan tersebut. Nabi Khidir AS menerima janji Nabi Musa AS itu walaupun sebetulnya dari awal Nabi Khidir AS sudah tahu bahwa Nabi Musa AS tidak akan bisa menepati janji-janjinya. Namun demikian Nabi Khidir AS perlu membuktikan hal itu dengan memberi kesempatan kepada Nabi Musa AS untuk mengikuti ke mana Nabi Khidir AS pergi guna mendapatkan pengetahuan tentang ilmu proses pembelajaran mulai berlangsung, terbuki bahwa Nabi Musa AS tidak bisa menepati janjinya karena setiap kali Nabi Khidir AS melakukan sesuatu, Nabi Musa AS selalu meminta penjelasan segera dari Nabi Khidir AS mengapa perbuatan itu dilakukan. Sikap Nabi Musa AS yang seperti ini menurut Nabi Khidir AS menujukkan ketidak sabaran Nabi Musa AS dalam menunggu penjelasan sehingga merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan yang telah disetuji bersama. Hal seperti ini berlangsung hingga tiga kali yang berarti Nabi Musa AS melanggar janjinya hingga sejumlah itu. Sidang Jum’ah rahimakumullah...Setelah Nabi Musa AS melakukan pelanggaran sebanyak tiga kali, Nabi Khidir AS memutuskan mengakhiri kebersamaanya dengan Nabi Musa AS. Namun sebelum mereka berpisah, Nabi Khidir AS dengan senang hati dan penuh keikhlasan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang kemudian dipertanyakan alasannya selama kebersamaanya dengan Nabi Musa AS. Penjelasan itulah yang sebenarnya merupakan ilmu haqiqat yang akan disampaikan kepada Nabi Musa AS sesuai permintannya. Penjelasan tersebut disampaikan sekaligus untuk mengakhiri kebersamaannya dengan Nabi Musa AS karena Nabi Musa AS sendiri mengatakan apabila melanggar janji hingga tiga kali maka Nabi Khidir AS dapat mengakhiri kebersamaan itu. Hal ini sebagaimana dikisahkan dalam ayat 76 قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًاArtinya Dia Musa berkata "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup bersabar menerima alasan dariku.”Penjelasan sebagaimana dikisahkan dalam Surah Al-Kahfi tentang tiga hal yang dilakukan Nabi Khidir AS selama kebersamaanya dengan Nabi Musa AS adalah sebagai berikut 1. Perahu yang dilubangi Nabi Khidir AS adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut. Nabi Khidir AS merusak perahu tersebut dengan membuatnya cacat agar tidak dirampas oleh raja yang melakukan operasi perampasan terhadap setiap perahu yang kondisinya baik. Sang raja telah berada di belakang mereka. Dengan perahu yang keadaannya cacat sang raja tidak tertarik untuk merampas perahu tersebut. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam ayat 79. أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًاArtinya “Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku ingin membuat perahu itu cacat karena di belakang mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu yang tidak cacat.”2. Seorang bocah laki-laki yang dibunuh Nabi Khidir AS adalah seorang anak yang kedepannya akan menjadi anak durhaka. Padahal kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan saleh. Dari pada kedua orang tua itu menuruti anaknya sehingga menjadi ikut tersesat dan kafir, maka dibunuhlah anak itu oleh Nabi Khidir AS, dengan maksud menyelamatkan kedua orang tuanya dari kesesatan dan kekafiran. Selain itu, Nabi Khidir AS juga berharap Allah SWT akan mengganti anak itu dengan anak saleh yang berbakti dan mencintai kedua orang tuanya. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam ayat الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا. فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًاArtinya “Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapaknya.”3. Dinding rumah yang hampir roboh itu adalah milik dua orang anak muda yang sudah yatim di kota itu. Di bawah dinding rumah itu terdapat harta benda simpanan bagi mereka berdua. Ayah mereka adalah orang saleh. Allah menghendaki agar harta simpanan itu bisa sampai kepada kedua anak itu hingga mereka dewasa dan dapat mengambil simpanan itu sebagai rahmat dari Allah SWT. Selanjutnya Nabi Khidir AS menjelaskan bahwa semua yang beliau lakukan itu bukanlah kemauannya sendiri melainkan perintah dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Kahfi, ayat الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًاArtinya“Adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya."Sidang Jum’ah rahimakumullah...Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS di atas adalah a. Apa yang dilakukan Nabi Khidir AS, yakni 1 Secara sengaja dan sepihak melubangi sebuah perahu yang bukan miliknya; 2 Secara sengaja dan sepihak membunuh seorang bocah laki-laki padahal anak tersebut tidak melakukan pembunuhan terhadap orang lain, dan 3 Secara sengaja dan sepihak memperbaiki dinding rumah orang lain yang hampir roboh sehingga tidak menarik bayaran dari pemiliknya, merupakan pelajaran yang diperlukan Nabi Musa AS untuk menambah wawasan keilmuannya mengingat ketiga hal di atas berdasarkan perintah langsung atau wahyu dari Allah SWT. Namun demikian, kita tahu bahwa kita semua bukanlah para nabi sebagaimana Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS yang memiliki sifat ma’shum, yakni terjaga oleh Allah SWT dari dosa dan kesalahan besar, tetapi kita semua adalah manusia biasa. Artinya pelajaran yang diberikan Nabi Khidir AS kepada Nabi Musa AS itu memang bukan untuk kita sebagai orang awam sehingga kita tidak diperbolehkan meniru Nabi Khidir AS begitu saja yang dalam kasus pertama, kedua dan ketiga bertentangan atau setidaknya tidak sejalan dengan ilmu syari’at yang dipegang Nabi Musa AS. Maka bisa dimengerti Nabi Musa AS selalu mengajukan pertanyaan atas apa yang telah dilakukan Nabi Khidir AS meskipun sudah berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu. Justru sikap Nabi Musa AS yang selalu berpegang teguh pada ilmu syari’at itulah yang sesungguhnya menjadi fokus perhatian kita sebagai orang awam. Bagi kita, Ilmu syari’at sesungguhnya sudah mengatur bahwa dalam hal-hal tertentu seperti keadaan darurat yang memaksa, kita diperbolehkan mencari alternatif atau jalan keluar yang dalam kondisi normal dilarang. Karena sifatnya darurat maka tidak boleh berlebihan dalam melaksanakannya. b. Kedua laki-laki itu, yakni Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS bersepakat untuk menjalin kebersamaan karena didorong niat bersama untuk beribadah kepada Allah. Nabi Musa AS ingin berguru mencari ilmu haqiqat dari Nabi Khidir AS, dan Nabi Khidir AS sendiri bersedia memberikan ilmunya kepada Nabi Musa AS dengan syarat-syarat tertentu yang disepakati bersama. Ketika kemudian Nabi Musa AS melanggar syarat-syarat itu, maka demi menghormati apa yang telah disepakati bersama mereka rela berpisah sebagaimana kesepakatan bersama. Perpisahan tersebut berlangsung dengan indah seindah saat awal bertemunya karena tidak ada perasaan dendam apalagi sikap saling membenci atau permusuhan diantara mereka. Nabi Musa AS menghormati ilmu hakikat yang dipegangi Nabi Khidir AS. Demikian pula sebaliknya Nabi Khidir menghormati ilmu syariat yang dipegang teguh Nabi Musa AS dan harus ditaati umatnya. Kedua ilmu itu benar karena sama-sama bersumber dari Allah SWT. Yang membedakan Nabi Musa AS dengan Nabi Khidir AS adalah bahwa Nabi Musa AS adalah seorang nabi sekaligus rasul, sedangkan Nabi Khidir AS adalah seroang nabi saja di mana wahyu yang diterimanya hanya untuk dirinya sendiri dan tidak ada kewajiban menyampaikannya kepada orang lain. Kedua nabi itu berkumpul karena Allah, berpisah pun karena Allah. Mereka hanya berpisah secara raga tetapi hati mereka tetap menyatu dan saling mendoakan. Sidang Jum’ah rahimakumullah...Demikianlah salah satu contoh tentang dua orang laki-laki yang oleh Rasulullah SAW dikatakan akan mendapatkan perlidungan dari Allah SWT pada hari Kiamat. Pada hari itu tidak ada perlindungan kecuali perlindungan dari Allah SWT. Contoh lain yang serupa atau mirip di zaman kita sekarang tentu dapat kita gali sendiri di lingkungan kita masing-masing. Prinsipnya adalah dua orang berkumpul karena Allah dan berpisahpun karena Allah yang dilandasi cinta kepada-Nya dan bukan karena didorong oleh nafsu yang bersumber dari ajakan setan. Semoga uraian di atas menginspirasi kita semua dalam berkumpul dan berpisah dengan orang lain sehingga kita pun kelak termasuk orang-orang yang akan mendapat perlindungan dari Allah SWT di hari Kiamat. Amin ya rabbal alamin. جعلنا الله واياكم من الفائزين الامنين، وادخلنا واياكم في زمرة عباده المؤمنين اعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم يايها الذين امنوا اتقواالله وقولوا قولا سديدا. بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني واياكم بما ف يه من الايات والذكرالحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو الغفور الرحيم، وقل رب اغفر وارحم وانت IIالحمد لله الحمد لله الذي اكرمنا بدين الحق المبين، وافضلنا بشريعة النبي الكريم، اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له، الملك الحق المبين، واشهد ان سيدنا ونبينا محمدا عبده و رسوله، سيدالانبياء والمرسلين، اللهم صل و سلم وبارك على نبينا محمد وعلى اله وصحبه والتابعين ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين، اما بعد فيايهاالناس اتقواالله، وافعلواالخيرات واجتنبوا عن السيئات، واعلمواان الله ياْمركم بامربداْ فيه بنفسه، فقال عز من قائل إن الله وملائكته يصلون على النبى، ياأيها الذين أمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صلّ على سيدنا محمد و على آل سيدنا محمد. اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الاحياء منهم والاموات انك سميع قريب مجيب الدعوات، وغافر الذنوب انك على كل شيئ قدير. ربنا اغفر لنا ذنوبنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم، ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين. عبادالله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكرواالله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكرالله Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama UNU Surakarta
ayat tentang berjumpa dengan allah